DARI DESA UNTUK DUNIA: KH Dahlan Abdul Qohar, Sang Diplomat NU Penyelamat Makam Nabi Muhammad

MWC-NU KERTOSONO – Sejarah besar seringkali lahir dari tempat-tempat yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuk ibu kota. Di sebuah kelurahan bernama Banaran, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, pernah hidup seorang ulama yang jejak langkahnya melampaui batas samudera, menembus dinding istana Raja Hijaz di tanah suci Mekah. Beliau adalah KH Dahlan Abdul Qohar.

Dalam rangkaian agenda Ziarah Muassis dan Muharrik Zona 4 menjelang Satu Abad Nahdlatul Ulama, rombongan PWNU Jawa Timur bersama PCNU Nganjuk kembali membuka lembaran emas tentang sosok ini. Sebuah kisah tentang bagaimana seorang putra daerah menjadi garda terdepan dalam menyelamatkan peradaban Islam dunia.

Intelektual Muda dari Banaran

Lahir pada Maret 1879, Dahlan muda tumbuh dengan didikan yang unik. Di saat mayoritas santri hanya menyentuh pendidikan pesantren, ia memiliki cakrawala luas dengan mengecap pendidikan formal di HIS dan Mulo. Inilah yang membentuk Kiai Dahlan menjadi sosok ulama yang langka: fasih mengaji kitab kuning, namun juga mahir berbahasa Belanda dan Inggris.

0-3840×2160-0-0-{}-0-24#

Kemampuan bahasa asing inilah yang kemudian menjadi “senjata” diplomasi yang tak ternilai bagi Jam’iyah Nahdlatul Ulama yang baru saja berdiri.

Misi Komite Hijaz: Melawan Rencana Pembongkaran Makam Nabi

Tahun 1926 adalah tahun yang genting bagi dunia Islam. Kekuasaan di tanah Arab beralih, dan sebuah kebijakan radikal muncul: rencana pembongkaran makam Nabi Muhammad SAW serta situs-situs sejarah di Mekah dan Madinah.

Melihat ancaman tersebut, para ulama di Nusantara tidak tinggal diam. Dibentuklah Komite Hijaz. Kiai Dahlan Abdul Qohar dipercaya untuk berangkat ke Hijaz bersama KH Wahab Hasbullah dan Ustaz Ghonaim.

Di hadapan Raja Ibnu Saud, kemampuan diplomasi Kiai Dahlan diuji. Dengan argumen yang kuat dan bahasa yang santun namun tegas, misi ini berhasil meyakinkan penguasa Hijaz untuk membatalkan rencana pembongkaran tersebut. Berkat kegigihan mereka, umat Islam hingga hari ini masih bisa berziarah dan menatap kubah hijau makam Rasulullah SAW.

A’wan PBNU dan Hubungan dengan Bung Karno

Sepulangnya dari misi suci tersebut, peran Kiai Dahlan tidak surut. Dalam Muktamar NU pertama di Surabaya tahun 1926, beliau dipercaya mengemban amanah sebagai A’wan (Pembantu Syuriah) PBNU.

KH Ali Musthofa Said (Rais Syuriah PCNU Nganjuk) mengisahkan bahwa Kiai Dahlan adalah sosok yang sangat dihormati oleh tokoh-tokoh bangsa. “Bung Karno itu sering ke sini, ke Kertosono, sowan ke kediaman Kiai Dahlan untuk berdiskusi tentang perjuangan bangsa,” tutur beliau. Kertosono pun menjadi titik temu penting antara pemikiran agama dan nasionalisme Indonesia.

Menjemput Berkah di Abad Kedua

Kini, di bawah nisan yang sederhana di Kelurahan Banaran, sang diplomat dunia itu beristirahat. KH Yahya Badrus Sholeh dari PWNU Jatim menegaskan bahwa ziarah ini adalah upaya menjemput ruh perjuangan.

“Kita tidak hanya mendoakan beliau, tapi kita sedang belajar bagaimana menjadi santri yang siap menjawab tantangan zaman, seperti Kiai Dahlan,” pesannya di hadapan para pengurus NU se-Kabupaten Nganjuk.

Kisah KH Dahlan Abdul Qohar adalah pengingat abadi bagi warga Nahdliyin: bahwa menjadi orang desa bukan berarti berwawasan sempit. Dari Kertosono, NU pernah mengirimkan pesan perdamaian dan penyelamatan sejarah kepada dunia.

Dari Desa Banaran, Untuk Dunia Islam.

Laporan: Faiz – Media Center MWC NU Kertosono

Dokumentasi: Liputan Ziarah Muassis & Muharrik Zona 4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *