KERTOSONO — Menyambut peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kertosono telah merilis rangkaian kegiatan yang padat dan beragam. Peringatan ini dikemas melalui perpaduan kegiatan keagamaan, edukasi, perlombaan generasi muda, hingga apel peringatan puncak yang melibatkan seluruh elemen masyarakat dan nahdliyin se-Kecamatan Kertosono.
Rangkaian agenda akan dibuka secara resmi pada Rabu, 7 Oktober 2026, melalui agenda Ziarah Muassis & Tokoh Se-Kecamatan Kertosono sebagai bentuk penghormatan dan napak tilas perjuangan para pendahulu. Memasuki akhir pekan kedua, MWC NU menggelar agenda edukatif dan spiritual secara serempak pada Sabtu, 10 Oktober 2026, yakni Workshop Pendidikan serta agenda JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah). Keesokan harinya, lantunan shalawat akan menggema melalui Diba’ & Al Barzanji Qubro pada Ahad, 11 Oktober 2026.
Semarak HSN 2026 juga memberi ruang bagi anak-anak dan generasi muda. Pada Sabtu, 17 Oktober 2026, digelar dua kompetisi sekaligus, yaitu Lomba Mewarnai dan Lomba Tartil Qur’an. Kemeriahan berlanjut pada Ahad, 18 Oktober 2026, dengan digelarnya Pawai Ta’aruf yang akan melibatkan arak-arakan syiar santri di wilayah Kertosono.

Menjelang tanggal 22 Oktober yang menjadi momentum puncak Hari Santri, MWC NU Kertosono memusatkan kegiatan di lingkungan pemerintahan setempat. Pada Rabu malam, 21 Oktober 2026, digelar Istighosah Qubro di Pendopo Kecamatan Kertosono. Tepat pada Hari Santri Nasional, Kamis, 22 Oktober 2026, ribuan santri dan kader dijadwalkan mengikuti Upacara HSN di Halaman Kantor Kecamatan Kertosono.
Rangkaian kegiatan tidak berhenti di situ. Penguatan kader perempuan muda NU diselenggarakan melalui LKD Fatayat NU pada Sabtu hingga Ahad, 24–25 Oktober 2026. Seluruh rangkaian panjang peringatan HSN 2026 MWC NU Kertosono akan dipungkasi dengan Puncak Acara Pengajian Umum pada Selasa, 27 Oktober 2026.
Mengusung keteladanan tiga tokoh pendiri (Muassis) NU—Hadrotusy Syeikh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbulloh, dan KH Bisri Syansuri—peringatan ini diharapkan meneguhkan kembali komitmen keumatan dan kebangsaan warga Nahdliyin, selaras dengan dawuh masyhur Hadrotusy Syeikh: “Siapa yang mau mengurusi NU, saya anggap ia santriku, siapa yang menjadi santriku saya doakan husnul khotimah beserta anak cucunya.”

